Mojokerto,Kertonews.com-Ketukan palu sidang di ruang rapat DPRD Kota Mojokerto langsung mengalihkan perhatian ke satu sosok: Ery Purwanti. Di balik posisinya sebagai ketua dewan, ia dikenal bukan hanya karena jabatan, melainkan gaya kepemimpinan yang tenang, tegas, dan penuh kepekaan.
Di tengah dunia legislatif yang masih didominasi laki-laki, kehadiran Ery menjadi warna tersendiri. Ia tidak hanya memimpin jalannya sidang, tetapi juga memberi arah kebijakan dengan sudut pandang yang lebih dekat pada keadilan sosial dan kepentingan masyarakat kecil.
“Jabatan ini adalah amanah. Dan amanah itu harus kembali kepada masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Momentum Hari Kartini seolah mempertegas makna perjuangannya. Jika R.A. Kartini dahulu membuka ruang bagi perempuan untuk bersuara, maka Ery memastikan suara itu benar-benar sampai dan diperjuangkan dalam pengambilan keputusan.
Komitmen tersebut tampak saat ia mengawal nasib 18 tenaga non-ASN Kota Mojokerto yang tidak lolos seleksi PPPK. Tidak berhenti di tingkat daerah, Ery membawa langsung persoalan tersebut ke pusat dengan mendatangi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Jakarta.
“Kami tidak sedang membicarakan angka, tetapi pengabdian yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Mereka berhak mendapatkan kejelasan,” tegasnya.
Langkah itu menunjukkan bahwa perjuangan tidak berhenti pada wacana. Bersama jajaran dewan, ia terus mengawal aspirasi tersebut agar tidak tenggelam dalam proses birokrasi.
Bagi Ery, angka 18 bukan sekadar data. Di baliknya ada kisah panjang tentang pengabdian, harapan keluarga, dan masa depan yang harus diperjuangkan.
Di balik setiap ketukan palu sidang, tersimpan keteguhan seorang perempuan yang menapaki dunia politik dengan konsistensi. Kepemimpinannya bukan hanya soal keputusan, tetapi juga tentang menghadirkan empati dalam setiap kebijakan yang diambil. (diak/ADV)
Penulis : Diak
Editor : Kayla
